PLB

Selasa, 23 Agustus 2011

Metode Pembelajaran Tuna Rungu

Strategi Instruksional
a. Psikomotor
Gunakan indera lain untuk instruksional. Berikan bantuan khusus dalam menggunakan bantuan visual, seperti papan pengumuman, papan tulis, pita video, cermin dan demonstrasi.
Gunakan tuntunan tangan untuk menggunakan kemampuan residual. Bila peserta didik memiliki radangan, hindari aktivitas dengan kondisi tempat yang suhu banyak berubah.Hindari suara yang terlalu banyak dalam ruang, kolam renang atau lapangan permainan.

Ajar peserta didik untuk membedakan hubungan ruang melalui gerak baik pendidikan gerak maupun permainan terstruktur.Berikan model dari sikap static dan dinamis yang baik. Gunakan cermin dan alat visual lainnya untuk mendorong memiliki sikap tubuh yang baik. Langsung bertindak untuk menyiapkan perilaku yang tidak baik. Karena hal itu tidak akan hilang dengan sendirinya.
Gunakan peserta didik yang normal dan anda sendiri sebagai model. Gunakan umpan balik audio-visual dan cermin sebagai teknik. Secara fisik dorong peserta didik mengangkat kaki dengan secara lembut memukul kakinya. Perkuat cara berjalan dengan tidak menyeret kaki.Seluruh rentangan perkembangan aktivitas amat penting bagi peserta didik ini. Tekankan berjalan, lari, lompat, di samping keterampilan koordinasi mata-kaki dan mata tangan, karena kemampuan tersebut dibutuhkan seumur hidup.Berikan aktivitas untuk kekuatan kardiovaskuler, kelentukan paling kurang 3 kali per minggu. Manfaatkan semaksimal mungkin bantuan visual.Hindari aktivitas memanjat seperti tali tangga dan perkakas. Latihan kelincahan melibatkan benda lain yang bergerak tidak disarankan.
b. Kognitif
Jangan perlakukan peserta didik berpendengaran terbatas sebagai yang bermental terbelakang. Guru pelatih jasmani perlu selalu memperhatikan masalah dari peserta didik berpendengaran terbatas sebagai penyebab utama prestasi kurang. Menirukan gerak yang didemonstrasikan adalah cara berkomunikasi yang penting bagi guru pendidikan jasmani. Gunakan hanya kata-kata esensial atau gerak untuk menyampaikan suatu pesan. Ulangi pesan lisan dengan cara lain bila komunikasi terputus. Jangan lakukan gerak bibir secara berlebihan bagi pembaca ucapan. Tetap tinggal di tempat dan minta peserta didik mendekat dan bertatap muka dengan anda. Hindari formasi lingkaran. Beri contoh keterampilan jasmani dengan punggung ke peserta didik untuk menghindari kebingungan untuk meniru, tetapi jangan berbicara sebelum anda menghadap peserta didik. Secara jasmaniah, bombing peserta didik untuk melakukan gerak yang dikehendaki bila diperlukan, dan gunakan isyarat tangan bilamana tempat dan waktu tepat.
Ketahui dimana alat pendengar dipasang, dilepas dan dirawat. Peserta didik jangan memakai pakaian terbuat dari bahan yang renyah (crispy) yang dapat berupa sumber suara static. Gunakan penangkap perhatian, dengan berbagai cara seperti mengangkat tangan, menghentakkan kaki, alat control jauh, cahaya senter dan bendera berwarna. Usahakan lingkungan mengajar cukup diterangi cahaya dan cahaya di belakang guru. Usahakan agar petunjuk-petunjuk pokok dipahami dengan cara mengulang-ulang sebelum satu aktivitas dimulai. Petunjuk lebih sulit disampaikan bila peserta didik telah bergerak.
c. Afektif
Aktivitas social harus menjadi prioritas tertinggi. Tunjukkan kepada peserta didik yang normal akibat kehilangan pendengaran melalui simulasi dan penggunaan isyarat. Ambil tindakan sedini mungkin terhadap anak-anak berpendengaran terbatas karena keturunan. Bantu mereka dengan memberikan kesempatan untuk bermain, temukan anak-anak berpendengaran normal dengan anak-anak berpendengaran terbatas. Interaksi antara 2 kelompok itu harus diperkuat.Berikan berbagai macam aktivitas jasmani yang melibatkan orang lain. Pengalaman gerak itu merangsang emosi.
Kelas dari peserta didik yang berpendenagaran sangat terbatas harus terdiri dari hanya 7-10 orang. Perkenalan dengan alat dan fasilitas harus mendahului aktivitas. Ajarkan peserta didik bagaimana cara jatuh. Semua petunjuk penting harus telah lengkap diberikan sebelum gerak dimulai, dan gunakan isyarat visual dan rabaan.

Sumber : http://yanoear46.wordpress.com/2010/03/31/pembelajaran-tuna-rungu/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar